PENGERTIAN PENELITIAN
Berikut ini adalah Pengertian Penelitian
Menurut Para Ahli yang bisa Anda simak, teliti dan pahami.
1. Suatu proses penyelidikan secara sistematis
yang ditujukan pada penyediaan informasi untuk menyelesaikan
masalah-masalah (Cooper & Emory, 1995).
2. Usaha yang secara sadar diarahkan untuk
mengetahui atau mempelajari fakta-fakta baru dan juga sebagai penyaluran
hasrat ingin tahu manusia (Suparmoko, 1991).
3. Soerjono Soekanto, Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada analisis dan konstruksi yang dilakukan secara sistematis, metodologis dan konsisten dan bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran sebagai salah satu manifestasi keinginan manusia untuk mengetahui apa yang sedang dihadapinya.
4. Sanapiah
Faisal, Mengemukakan bahwa penelitian merupakan suatu
aktivitas dalam menelaah suatu problem dengan menggunakan metode ilmiah secara tertata
dan sistematis untuk menemukan pengetahuan baru yang dapat diandalkan
kebenarannya mengenai dunia alam dan dunia sosial.
Jenis dan Karakteristik Penelitian
A. Penelitian Deskriptif (Descriptive Research)
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang
diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta atau kejadian-kejadian
secara sistematis dan akurat, mengenai sifat-sifat populasi atau daerah
tertentu. Dalam penelitian deskriptif cenderung tidak perlu mencari atau
menerangkan saling hubungan dan menguji hipotesis.
Ada beberapa jenis penelitian yang termasuk
penelitian deskriptif, antara lain sebagai berikut, penelitian survei
(penelitian pemairan), penelitian kasus, penelitian perkembangan, penelitian
tindak lanjut, penelitian analisis dokumen, studi waktu dan gerak, studi
kecenderungan.
B. Penelitian Sejarah
Penelitian sejarah menurut Yatim Riyanto,
penelitian ini merupakan Expost facto research yang dinaungi oleh penelitian
kualitatif. Dalam penelitian sejarah tidak terdapat manipulasi atau kontrol
terhadap variabel, sebagaimana dalam penelitian eksperimen.
Penelitian sejarah adalah penelitian yang
secara eksklusif memfokuskan pada masa lalu. Penelitian ini mencoba
merekonstruksikan apa yang terjadi pada masa yang lalu selengkap dan seakurat
mungkin, dan biasanya menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Dalam mencari data
dilakukan secara sistematis agar mampu menggambarkan, menjelaskan, dan memahami
kegiatan atau peristiwa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
Langkah-langkah dalam penelitian sejarah:
• Merusmuskan masalah
• Menemukan sumber informasi sejarah yang
relevan
• Meringkas informasi yang diperoleh dari
sumber historis
• Mengevaluasi sumber sejarah
• Hipotesis dan generalisasi dalam penelitian
sejarah
• Penulisan laporan penelitian sejarah
C. Penelitian Korelasional
Menurut Yatim Riyanto, penelitian korelasional
adalah penelitian yang akan melihat hubungan antara variabel atau beberapa
variabel dengan variabel lain. Variabel yang digunala untuk memprediks disebut
variabel prediktor atau variabel independen (bebas), sedangkan variabel yang
diprediksi disebut variabel kriterium atau variabel kriteria biasanya dapat
disebut variabel dependen (terikat).
D. Penelitian Kausal Komparatif
Penelitian kausal komparatif merupakan
penelitian yang diarahkan untuk menyelidiki hubungan sebab-akibat berdasarkan
pengamatan terhadap akibat yang terjadi dan mencari faktor yang menjadi
penyebab melalui data yang dikumpulkan.
Dalam pendekatan ini pendekatan dasarnya
adalah memulai dengan adanya perbedaan dua kelompok, kemudian mencari faktor
yang mungkin menjadi penyebab atau akibat dari perbedaan tersebut. Dalam hal
ini ada unsur membandingkan antara dua atau lebih variabel. Ciri pokok dari
penelitian ini adalah bahwa penelitian komparatif adalah penelitian expost
facto, dimana peneliti dalam membandingkan dan mencari sebab-akibat dari
variabelnya tidak dapat melakukan treatment. Penelitian ini cenderung
mengandalkan data kuantitatif.
E. Penelitian Eksperimen
Menurut Yatim Riyanto, penelitian eksperimen
merupakan penelitian yang sistematis, logis, dan teliti di dalam melakukan
kontrol terhadap kondisi. Dalam melakukan eksperimen peneliti memanipulasikan
suatu stimulant, treatment atau kondisi-kondisi eksperimental, kemudian
mengobservasi pengaruh yang diakibatkan oleh adanya perlakuan atau manipulasi
tersebut.
Dalam penelitian eksperimen, kontrol yang
cermat terhadap kemungkinan masuknya pengaruh faktor lain sangat diperlukan,
agar mendapatkan faktor-faktor yang benar-benar murni dari faktor yang
dimanipulasi tadi.
F. Penelitian Tindakan (Action Research)
Penelitian tindakan menurut Kemmis adalah
penelitian tindakan merupakan upaya mengujicobakan ide-ide ke dalam praktik
untuk memperbaiki atau mengubah sesuatu agar memperoleh dampak nyata dari
situasi. Selanjutnya Kemmis dan Taggart, menyatakan bahwa penelitian tindakan
adalah suatu bentuk penelitian reflektif diri yang secara kolektif dilakukan
peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran, keadilan praktik
pendidikan dan sosial mereka, serta pemahaman mereka mengenai praktik ini dan
terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut.
Penelitian tindakan merupakan intervensi skala
kecil terhadap tindakan di dunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh
intervensi tersebut (Cohen dan Mantion). Sementara itu menurut Elliot,
penelitian tindakan merupakan kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk
meningkatkan kualitas kegiatan yang ada didalamnya. Seluruh prosesnya yang
meliputi telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan dampak,
serta menjalin hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan
professional.
G. Penelitian Grounded
Penelitian grounded yang ditokohi Glaser dan
Strauss pada tahun 1967 di Amerika Serikat dan diperkenalkan di Indonesia oleh
Schiegel, merupakan jenis penelitian yang tidak bertolak dari teori, tetapi
berangkat dari data-data faktual lapangan. Data-data tersebut diproses menjadi
teori berdasarkan metode berfikir deduktif.
Penelitian grounded berangkat dari dunia
empiris, bukan dari hal yang konseptual dan abstrak, karena penelitian grounded
menekankan pada lahirmya teori berdasarkan data empiris dan realitas sosial.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Setiap penelitian
tentunya mempunyai beberapa tujuan dan manfaat, untuk apa melakukan penelitian
apabila tidak bermanfaat, oleh karena itu penulis membagi tujuan dalam (3) tiga
kriteria yaitu:
Tujuan Operasional
Tujuan Operasional
dari penelitian ini yaitu:
1. Dapat
mengidentifikasi dengan baik semua kebutuhan-kebutuhan yang terkait dengan
sistem media video sharing online Magics pada Perguruan Tinggi Raharja.
2.Mengetahui masalah –
masalah apa saja yang timbul pada media video sharing online Magics.
3.Menghasilkan
penerapan system media video sharing online Magics secara optimal.
Tujuan Fungsional
Tujuan Fungsional dari
penelitian ini yaitu :
Agar hasil dari
penelitian dapat dimanfaatkan dan digunakan oleh instansi sebagai referensi
dasar untuk mengambil kebijakan/keputusan yang berhubungan dengan informasi
pada Perguruan Tinggi Raharja.
Tujuan Individual
Tujuan Individual dari
penelitian ini yaitu:
Untuk menambah ilmu
pengetahuan, pengalaman, pengenalan dan pengamatan sebuah sistem informasi pada
Perguruan Tinggi Raharja sehingga penulis melakukan penelitian untuk
menyelesaikan Tugas Kuliah Kerja Praktek (KKP).
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penulisan
laporan Kuliah Kerja Praktek (KKP) ini antara lain:
1. Memberikan
pengalaman kepada penulis untuk menerapkan dan memperluas wawasan penerapan
teori dan pengetahuan yang telah diterima di dalam perkuliahan pada kegiatan
nyata.
2. Analisa yang
dilakukan dapat membantu untuk mengetahui bagaimana sistem aplikasi ini
bekerja.
3. Dengan adanya
sistem media video sharing online Magics , maka diharapkan mahasiswa dapat
memperoleh informasi – informasi terbaru disekitar Perguruan Tinggi Raharja.
Selain itu mahasiswa juga dapat berbagi file video, music, dan image.
HUBUNGAN PENELITIAN
DENGAN PERANCANGAN
Hasil penelitian,
antara lain berupa teori, disumbangkan ke khazanah ilmu pengetahuan, sedangkan
ilmu yang ada di khazanah tersebut dimanfaatkan oleh para
perancang/perencana/pengembang untuk melakukan kegiatan dalam bidang
keahliannya. Menurut Zeisel (1981), perancangan mempunyai tiga langkah utama,
yaitu: imaging, presenting dan testing, sedangkan imaging dilakukan berdasar
empirical knowledge. Perancangan/perencanaan/pengembangan, selain menggunakan
pengetahuan dari khazanah ilmu pengetahuan, juga mempertimbangkan hal-hal lain,
seperti estetika, perhitungan ekonomis, dan kadang pertimbangan politis, dan
lain-lain. Terhadap hasil perencanaan/perancangan/pengembangan juga dapat
dilakukan penelitian evaluasi yang hasilnya juga akan memperkaya khazanah ilmu
pengetahuan.
RAGAM PENELITIAN
RAGAM PENELITIAN
RAGAM PENELITIAN MENURUT BIDANG ILMU
Secara umum, ilmu-ilmu
dapat dibedakan antara ilmu-ilmu dasar dan ilmu-ilmu terapan. Termasuk kelompok
ilmu dasar, antara lain ilmu-ilmu yang dikembangkan di fakultas-fakultas MIPA
(Mathematika, Fisika, Kimia, Geofosika), Biologi, dan Geografi. Kelompok ilmu
terapan meliputi antara lain: ilmu-ilmu teknik, ilmu kedokteran, ilmu teknologi
pertanian Ilmu-ilmu dasar dikembangkan lewat penelitian yang biasa disebut
sebagai “penelitian dasar” (basic research), sedangkan
penelitian terapan (applied research) menghasilkan ilmu-ilmu
terapan. Penelitian terapan (misalnya di bidang fisika bangunan) dilakukan
dengan memanfaatkan ilmu dasar (misal: fisika). Oleh para perancang teknik,
misalnya, ilmu terapan dan ilmu dasar dimanfaatkan untuk membuat rancangan
keteknikan (misal: rancangan bangunan). Tentu saja, dalam merancang, para ahli
teknik bangunanT tersebut juga mempertimbangkan hal-hal lain, misalnya:
keindahan, biaya, dan sentuhan budaya. Catatan: Suriasumantri (1978: 29)
menamakan penelitian dasar tersebut di atas sebagai “penelitian murni”
(penelitian yang berkaitan dengan “ilmu murni”, contohnya: Fisika teori).
Pada perkembangan
keilmuan terbaru, sering sulit menngkatagorikan ilmu dasar dibedakan dengan
ilmu terapan hanya dilihat dari fakultasnya saja. Misal, di Fakultas Biologi
dikembangkan ilmu biologi teknik (biotek), yang mempunyai ciri-ciri ilmu
terapan karena sangat dekat dengan penerapan ilmunya ke praktek nyata
(perancangan produk). Demikian juga, dulu Ilmu Farmasi dikatagorikan sebagai
ilmu dasar, tapi kini dimasukkan sebagai ilmu terapan karena dekat dengan
terapannya di bidang industri. Karena makin banyaknya hal-hal yang masuk
pertimbangan ke proses perancangan/perencanaan, selain ilmu-ilmu dasar dan
terapan, produk-produk perancangan/perencanaan dapat menjadi obyek penelitian.
Penelitian seperti ini disebut sebagai penelitian evaluasi (evaluation
research) karena mengkaji dan mengevaluasi produk-produk tersebut
untuk menggali pengetahuan/teori “yang tidak terasa” melekat pada produk-produk
tersebut (selain ilmu-ilmu dasar dan terapan yang sudah ada
sebelumnya). Bila
tidak melihat apakah penelitian dasar atau terapan, maka macam penelitian
menurut bidang ilmu dapat dibedakan langsung sesuai macam ilmu. Contoh:
penelitian pendidikan, penelitian keteknikan, penelitian ruang angkasa,
pertanian, perbankan, kedokteran, keolahragaan, dan sebagainya (Arikunto, 1998:
11).
RAGAM PENELITIAN
MENURUT PEMBENTUKAN ILMU
Ilmu dapat dibentuk
lewat penelitian induktif atau penelitian deduktif. Diterangkan secara
sederhana, penelitian induktif adalah penelitian yang menghasilkan teori atau
hipotesis, sedangkan penelitian deduktif merupakan penelitian yang menguji
(mengetes) teori atau hipotesis (Buckley dkk., 1976: 21). Penelitian deduktif
diarahkan oleh hipotesis yang kemudian teruji atau tidak teruji selama proses
penelitian. Penelitian induktif diarahkan oleh keingintahuan ilmiah dan upaya
peneliti dikonsentrasikan pada prosedur pencarian dan analisis data (Buckley
dkk., 1976: 23). Setelah suatu teori lebih mantap (dengan penelitian deduktif)
manusia secara alamiah ingin tahu lebih banyak lagi atau lebih rinci, maka
dilakukan lagi
penelitian induktif, dan seterusnya beriterasi sehingga khazanah ilmu
pengetahuan semakin bertambah lengkap. Secara lebih jelas, penelitian deduktif
dilakukan berdasar logika deduktif, dan penelitian induktif dilaksanakan
berdasar penalaran induktif (Leedy, 1997: 94-95). Logika deduktif dimulai
dengan premis mayor (teori umum); dan berdasar premis mayor dilakukan pengujian
terhadap sesuatu (premis minor) yang diduga mengikuti premis mayor tersebut.
Misal, dulu kala terdapat premis mayor bahwa bumi berbentuk datar, maka premis
minornya misalnya adalah bila kita berlayar terus menerus ke arah barat atau
timur maka akan sampai pada tepi bumi. Kelemahan dari logika deduktif adalah
bila premis mayornya keliru.
Kebalikan dari logika
deduktif adalah penalaran induktif. Penalaran induktif dimulai dari observasi
empiris (lapangan) yang menghasilkan banyak data (premis minor). Dari banyak
data tersebut dicoba dicari makna yang sama (premis mayor)—yang merupakan teori
sementara (hipotesis), yang perlu diuji dengan logika deduktif.
RAGAM PENELITIAN
MENURUT BENTUK DATA
enelitian kuantitatif menekankan pada
fenomena-fenomena objektif dan dikaji secara kuantitatif. Maksimalisasi
objektivitas desain penelitian kuantitatif menurut Sukmadinata (2009:530)
dilakukan dengan menggunakan angka-angka, pengolahan statistik, struktur dan
percobaan terkontrol. Metode penelitian yang tergolong ke dalam penelitian
kuantitatif bersifat noneksperimental adalah deskriptif, survai, expostfacto,
komparatif, korelasional.
Penelitian kualitatif menekankan bahwa
kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif dan suatu pertukaran pengalaman
sosial yang diinterpretasikan oleh individu-individu. Penelitian kualitatif
ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut atau perspektif
partisipan. Paritsipan adalah orang-orang yang diajak berwawancara,
diobservasi, diminta memberikan data, pendapat, pemikiran, persepsinya.
Penelitian kualitatif mengkaji perspektif partisipan dengan berbagai macam
strategi yang bersifat interaktif seperti observasi langsung, observasi
partisipatif, wawancara mendalam, dokumen-dokumen, teknik-teknik pelengkap.
Penelitian kualitatif memiliki dua tujuan utama yaitu untuk menggambarkan dan
mengungkapkan (to describe and explore) dan tujuan yang kedua yaitu menggambarkan
dan menjelaskan (to describe and explain).
Perbedaan antara penelitian kualitatif dan
kuantitatif antara lain pada penelitian kuantitatif terdapat kesenjangan jarak
antara peneliti dengan objek yang diteliti, sementara penelitian kualitatif menyatu
dengan situasi dan fenomena yang diteliti. Dalam penelitian kualitatif kegiatan
manusia sangat dipengaruhi oleh seting dimana hal tersebut berlangsung.
Penelitian kuantitatif memandang peneliti lepas daari situasi yang
diteliti.Perbedaan antara penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif
bukan sekedar perbedaan teknis, tetapi juga perbedaan secara mendasar. Keduanya
bertolak dari pandangan filsafat yang berbeda tentang kenyataan, memiliki
asumsi dan pendekatan yang berbeda pula dalam mengkaji kenyataan.
Tabel berikut menjelaskan perbedaan yang
berarti antara penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif menurut
Arikunto(2002:11):
RAGAM PENELITIAN MENURUT PARADIGMA KEILMUAN
Menurut Muhajir
(1990), terdapat tiga macam paradigma keilmuan yang berkaitandengan penelitian,
yaitu: (1) positivisme, (2) rasionalisme, dan (3) fenomenologi. Ketiga macam
penelitian ini dapat dibedakan dalam beberapa sudut pandang (a) sumber
kebenaran/teori, dan (2) teori yang dihasilkan dari penelitian.Dari sudut
pandang sumber kebenaran, paradigma positivisme percaya bahwa kebenaran hanya
bersumber dari empiri sensual, yaitu yang dapat ditangkap oleh pancaindera,
sedangkan paradigma rasionalisme percaya bahwa sumber kebenaran tidak hanya
empiri sensual, tapi juga empiri logik (pikiran: abstraksi, simplifikasi), dan
empiri etik (idealisasi realitas). Paradigma fenomenologi menambah semua
empiri yang dipercaya sebagai sumber kebenaran oleh rasionalisme dengan satu
lagi yaitu empiri transcendental (keyakinan; atau yang berkaitan dengan
Ke-Tuhan-an).
Dari pandangan teori
yang dihasilkan, penelitian dengan berbasis paradigma positivisme atau
rasionalisme, keduanya menghasilkan sumbangan kepada khazanah ilmu nomotetik
(prediksi dan hukum-hukum dari generalisasi). Di lain pihak, penelitian
berbasis fenomenologi tidak berupaya membangun ilmu dari generalisasi, tapi
ilmu idiografik (khusus berlaku untuk obyek yang diteliti). Sering ditanyakan
manfaat dari ilmu yang berlaku local dibandingkan ilmu yang berlaku umum (general). Keduanya
saling melengkapi, karena ilmu lokal menjelaskan kekhasan obyek dibandingkan
yang umum. Misal, kini sedang berkembang ilmu tentang ASEAN (ASEAN
studies). Manfaat dari ilmu semacam ini dapat dicontohkan sebagai
berikut: di negara barat, banyak orang ingin berdagang di ASEAN; agar berhasil
baik, mereka perlu mempelajari tatacara/kebiasaan/kultur berdagang di ASEAN,
maka mereka mempelajari ilmu lokal yang menjelaskan perbedaan tatacara perdagangan
di kawasan tersebut dibanding tatacara perdagangan yang umum di dunia. Untuk
lebih menjelaskan perbedaan antar ketiga macam penelitian berbasis tiga macam
paradigma yang berbeda tersebut, di bawah ini (lihat Tabel Ragam-1)satu per
satu dibahas lebih lanjut, terutama dari (a) kerangka teori sebagai persiapan
penelitian, (b) kedudukan obyek dengan lingkungannya, (c) hubungan obyek
dan peneliti, dan (d) generalisasi hasil—sumber: Muhadjir (1990).
RAGAM PENELITIAN
MENURUT STRATEGI
Ragam
Penelitian menurut Strategi (Opini, Empiris, Arsip, Logika internal)
Buckley dkk. (1976: 23) menjelaskan arti metodologi, strategi, domain, teknik, sebagai berikut:
Buckley dkk. (1976: 23) menjelaskan arti metodologi, strategi, domain, teknik, sebagai berikut:
1. Metodologi merupakan kombinasi tertentu yang meliputi strategi,
domain, dan teknik yang dipakai untuk mengembangkan teori (induksi) atau
menguji teori (deduksi).
2. Strategi terkait dengan sifat alamiah yang esensial dari data
dan proses data tersebut dikumpulkan dan diolah.
3. Domain berkaitan dengan sumber data dan lingkungannya.
4. Teknik terkait dengan alat pengumpulan dan pengolahan data.
Teknik dibedakan dua macam, yaitu:
5. Teknik “formal” merupakan teknik yang diterapkan secara obyektif
dan menggunakan data kuantitatif.
6. Teknik “informal” merupakan teknik yang diterapkan secara subyektif
dan menggunakan data kualitatif.
Secara lebih sederhana, dapat dikatakan bahwa strategi berkaitan dengan “cara” kita melakukan pengembangan atau pengujian teori. Berkaitan dengan strategi, ragam penelitian dapat dibedakan menjadi empat, yaitu penelitian: (1) opini, (2) empiris, (3) kearsipan, dan (4) analitis.
1.
PENELITIAN OPINI
Bila peneliti mencari pandangan atau persepsi
orang-orang terhadap suatu permasalahan, maka ia melakukan penelitian opini.
Orang-orang tersebut dapat merupakan kelompok atau perorangan (jadi domain-nya
dapat berupa kelompok atau individual). Terdapat banyak ragam
metode/teknik yang dapat dipakai untuk penelitian opini perorangan, salah
satunya yang populer dan formal adalah: metode penelitian survei (survey research)1.
Selain itu, penjaringan persepsi perorangan yang informal dapat dilakukan dengan teknik wawancara. Untuk mengumpulkan opini kelompok, secara formal, dapat dipakai metode Delphi. Metode ini dilakukan terhadap kelompok pakar, untuk mengembangkan konsensus—atau tidak adanya konsensus—dengan menghindari pengaruh opini antar pakar-pakar. Teknik informal untuk menggali opini kelompok dapat dilakukan antara lain dengan curah gagas (brainstorming)3. Cara ini dilakukan dengan (a) menfokuskan pada satu masalah yang jelas, (b) terima semua ide, tanpa disangkal, tanpa melihat layak atau tidak, dan (c) katagorikan ide-ide tersebut.
Selain itu, penjaringan persepsi perorangan yang informal dapat dilakukan dengan teknik wawancara. Untuk mengumpulkan opini kelompok, secara formal, dapat dipakai metode Delphi. Metode ini dilakukan terhadap kelompok pakar, untuk mengembangkan konsensus—atau tidak adanya konsensus—dengan menghindari pengaruh opini antar pakar-pakar. Teknik informal untuk menggali opini kelompok dapat dilakukan antara lain dengan curah gagas (brainstorming)3. Cara ini dilakukan dengan (a) menfokuskan pada satu masalah yang jelas, (b) terima semua ide, tanpa disangkal, tanpa melihat layak atau tidak, dan (c) katagorikan ide-ide tersebut.
2.
PENELITIAN EMPIRIS
Empiris terkait dengan observasi atau kejadian
yang dialami sendiri oleh peneliti. Penelitian empiris dapat dibedakan dalam
tiga macam bentuk, yaitu: studi kasus, studi lapangan,
dan studi laboratorium. Ketiga macam penelitian ini dapat dibedakan
dari dua sudut pandang, yaitu: (a) keberadaan rancangan eksperimen, dan (b)
keberadaan kendali eksperimen—seperti terlihat pada tabel berikut:
Teknik observasi merupakan teknik yang dapat dipakai untuk ketiga macam penelitian empiris di atas. Selain itu, untuk studi lapangan dapat dipakai teknik studi waktu dan gerak (time and motion study), misal dibantu dengan peralatan kamera video, TV sirkuit rertutup, atau alat “penangkap” kejadian (sensor) dan perekam yang lain. Untuk studi laboratorium dapat dilakukan antara lain dengan simulasi (misal dengan komputer).
3.
PENELITIAN KEARSIPAN/KEPUSTAKAAN
“Arsip”,
dalam hal ini, diartikan sebagai rekaman fakta yang disimpan. Kita bedakan tiga
tipe arsip, yaitu: (1) primer, (2) sekunder, dan (3) fisik. Dua tipe yang
pertama berkaitan dengan arsip tertulis, tape, dan bentuk -bentuk lain
dokumentasi. Arsip primer adalah rekaman fakta langsung oleh perekamnya (misal:
data perkantoran), sedangkan arsip sekunder merupakan hasil rekaman orang/pihak
lain. Tipe ketiga, yaitu arsip fisik, dapat berupa batu candi, jejak kaki, dan sebagainya. Teknik informal dalam
penelitian ini berupa antara lain: scanning dan observasi.
Teknik formal untuk arsip tertulis primer dapat dilakukan dengan metode analisis isi (content analysis). Terhadap arsip sekunder dapat dilakukan teknik sampling, sedangkan terhadap arsip fisik dapat dilakukan antara lain dengan pengukuran erosi dan akresi (untuk penelitian arkeologi).
Teknik formal untuk arsip tertulis primer dapat dilakukan dengan metode analisis isi (content analysis). Terhadap arsip sekunder dapat dilakukan teknik sampling, sedangkan terhadap arsip fisik dapat dilakukan antara lain dengan pengukuran erosi dan akresi (untuk penelitian arkeologi).
4.
PENELITIAN ANALITIS
Terdapat
problema penelitian yang tidak dapat dipecahkan dengan penelitian opini,
empiris atau kearsipan. Penelitian tersebut perlu dipecahkan secara analitis,
yaitu dilakukan dengan cara memecah problema menjadi sub-sub problema
(atau variabel-variabel) dan dicari karakteristik tiap sub problema (variabel)
dan keterkaitan antar sub problema (variabel).
Penelitian analitis sangat menggantungkan diri pada logika internal penelitinya, sehingga subyektivitas peneliti perlu dihindari. Untuk itu, penelitian analitis perlu mendasarkan diri pada filsafat atau logika. Terdapat berbagai teknik formal dalam penelitian analitis, antara lain: logika matematis, pemodelan matematis, dan teknik organisasi formal (flowcharting, analisis jaringan, strategi pengambilan keputusan, algoritma, heuristik). Catatan: Riset operasi merupakan pengembangan dari penelitian analitis. Teknik informal untuk penelitian analitis meliputi antara lain: skenario, dialektik, metode dikotomus, metode teralogis—lihat Buckley dkk. (1976: 27).
Penelitian analitis sangat menggantungkan diri pada logika internal penelitinya, sehingga subyektivitas peneliti perlu dihindari. Untuk itu, penelitian analitis perlu mendasarkan diri pada filsafat atau logika. Terdapat berbagai teknik formal dalam penelitian analitis, antara lain: logika matematis, pemodelan matematis, dan teknik organisasi formal (flowcharting, analisis jaringan, strategi pengambilan keputusan, algoritma, heuristik). Catatan: Riset operasi merupakan pengembangan dari penelitian analitis. Teknik informal untuk penelitian analitis meliputi antara lain: skenario, dialektik, metode dikotomus, metode teralogis—lihat Buckley dkk. (1976: 27).
RAGAM
PENELITIAN LAINNYA
Dalam literatur terdapat banyak ragam penelitian menurut berbagai sudut pandang, dan tidak semua ragam dapat dibahas disini. Pembahasan lain-lain hanya akan melihat ragam penelitian bersumber dari tiga pustaka, yaitu buku Arikunto (1998), Suryabrata (1983)4, dan Yin (1989)5.
1. Ragam Penelitian menurut pendekatan—sumber: Arikunto (1998: 9-10)
·
Penelitian dengan pendekatan longitudinal (satu obyek penelitian
dilihat bergerak sejalan dengan waktu)
·
Penelitian dengan pendekatan penampang-silang
(cross-sectional—yaitu banyak obyek penelitian dilihat pada satu waktu
yang sama).
2.
Ragam Penelitian—sumber: Suryabrata (1983: 15-64)
·
Historis (membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan
obyektif)
·
Deskriptif (membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan
akurat mengenai fakta dan sifat populasi atau daerah tertentu)
·
Perkembangan (menyelidiki pola dan urutan pertumbuhan
dan/atau perubahan sebagai fungsi waktu)
·
Kasus/Lapangan (mempelajari secara intensif latar belakang
keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu obyek)
·
Korelasional (mengkaji tingkat keterkaitan antara variasi suatu
faktor dengan variasi faktor lain berdasar koefisien korelasi)
·
Eksperimental sungguhan (menyelidiki kemungkinan hubungan sebab
akibat dengan melakukan kontrol/kendali)
·
Eksperimental semu (mengkaji kemungkinan hubungan sebab akibat
dalam keadaan yang tidak memungkinkan ada kontrol/kendali, tapi dapat diperoleh
informasi pengganti bagi situasi dengan pengendalian)
·
Kausal-komparatif (menyelidiki kemungkinan hubungan
sebab-akibat, tapi tidak dengan jalan eksperimen—dilakukan denganpengamatan terhadap
data dari faktor yang diduga menjadi penyebab, sebagai pembanding)
·
Tindakan (mengembangkan ketrampilan baru atau pendekatan baru
dan diterapkan langsung serta dikaji hasilnya).
RAGAM
PENELITIAN & SYARAT PENELITIAN
Melihat
banyak ragam penelitian dari berbagai sudut pandang dan dari berbagai pendapat
para penulis, maka kita perlu hati-hati dalam menyebut ragam penelitian kita,
karena dengan istilah yang sama tapi orang lain mungkin menangkap
artinya secara berbeda. Sering pula untuk satu pengertian yang sama tapi diberi istilah yang
berbeda. Selain itu, perlu diperhatikan bahwa penelitian perlu dilakukan dengan
syarat:
1.
SISTEMATIK (menuruti prosedur tertentu, tidak ruwet), dan
2.
OBYEKTIF (tidak subyektif, dengan sampel yang cukup,
dipublikasikan agar dapat dievaluasi oleh kelompok pakar bidangnya/ peer)
.Penelitian Kuantitatif
dan Kualitatif
Judul, Latar belakang, dan Rumusan Permasalahan
Bagian pertama atau awal sebuah proposal dimulai dengan (1) judul, disusul dengan
Penelitian Kuantitatif
adalah penelitian yang dituntut menggunakan angka-angka sedangkan Penelitian
kualitatif adalah penelitian yang seringkali dipergunakan dalam penelitian-
penelitian ilmu sosial. Hal ini dirasakan perlu karena fenomea sosial seringkali
tidak bisa ditujukan secara kuatitatif. Ini berarti bahwa penelitian
kuantitatif dan penelitian kualitatif saling melengkapi.
Jenis-jenis penelitian kuantitatif
diantaranya : 1. Peelitian deskriptif, 2. Penelitian Eksploratif, 3. Penelitian
Survei, 4. Penelitian Evaluasi.
Janis-jenis
Penelitia Kualitatif diantaranya : 1. Penelitian deskriptif
Yaitu penelitian yang bertujuan untuk
menggambarkan suatu realitas tertentu atau dirancang untuk megumpulkan
informasi tentang keadaan-keadaan nyata yang sedang berlangsung. 2. Penelitian
Eksplorasi yaitu Penelitian yag dilakukan untuk penjelajahan terhadap topik
atau masalah yang belum banyak mendapatkan perhatian dan memiliki permasalahan
yang terbuka luas untuk diteliti dan belum ada hipotesa.
3. Penelitian Eksploratori yaitu penelitian
yang digunakan utuk menjelaskan fenomena sosial bedanya dengan eksplorasi
adalah metode ini perlu adanya hipotesa karena penelitian ini bertujuan untuk
penguji hipotesa.
G. Perbedaan antara
Kuantitatif dan Kualitatif
|
No
|
Penelitian Kuantitatif
|
Penelitian Kualitatif
|
|
1.
|
Kejelasan unsur : tujuan, pendekatan,
suubjek, sumber data sudah mantap dan rinci sejak awal.
|
Kejelasan unsur : subjek sampel, sumber
data tidak mantap dan rinci, masih pleksibel, timbul dan berkembangnya sambil
berjalan (emergen)
|
|
2.
|
Langkah Penelitian : segala sesuatu yang
direcanakan sampai matang ketika persiapan disusun.
|
Langkah Peelitian : baru diketahui dengan
mantap dan jelas setelah penelitian selesai.
|
|
3.
|
Dapat menggunakan sampel , dan hasil
penelitiannya diberlakukan untuk populasi.
|
Tidak dapat menggunakan pendekatan
populasi dan sampel. Dengan kata lain, dalam penelitian kualitatif tidak
dikenal istilah populasi dan sampel belum selesai istilah yag digunakan
adalah setting.
|
|
4.
|
Hipotesis : (jika memang perlu) :
a. megajukan
hipotesis yang akan diuji dalam penelitian.
b. Hipotesis
menghasikan yang diramalkan--- a priori.
|
Tesis :
a. tidak
mengemukakan hipotesis sebelumnya tetapi dapat lahir selama penelitian
berlangsung --- tentatif
hasil penelitian terbuka.
|
|
5.
|
Desain : dalam desain jelas
langkah-langkah penelitian dan hasil yang diharapkan.
|
Desain : desain penelitiannya adalah
pleksibel dengan langkah dan hasil yang tidak dapat dipastikan
sebelumnya.
|
|
6.
|
Pengumpulan data : kegiatan dalam
pengumpulan data memungkinkan untuk diwakilkan.
|
Pengumpulan data : kegiatan pengumpulan
data selalu harus dilakukan sendiri oleh penelilti.
|
|
7.
|
Analisis data : dilakukan setelah semua
data terkumpul.
|
Pengumpulan data : dilakukan bersamaan
dengan pengumpulan data.
|
UNSUR DAN ELEMEN PROPOSAL PENELITIAN
Proposal atau usulan penelitian
diperlukan untuk mengawali suatu kegiatan penelitian. Proposal tersebut perlu
dikaji atau dievaluasi oleh pembimbing penelitian atau evaluator dari pihak
sponsor pemberi dana. Untuk memperlancar evaluasi atau kajian, proposal perlu
mengikuti format tertentu dalam hal susunan isi, pengetikan, dan pengesahan
(yang diminta oleh pembimbing atau evaluator). Dalam bab ini hanya format
susunan isi yang dibahas, sedangkan untuk format pengetikan dan pengesahan
silahkan mengacu pada pedoman yang berlaku.
Untuk membahas format susunan isi proposal penelitian,
pertama dibahas unsur proposal beserta keterkaitan antar unsur tersebut.
Bahasan selanjutnya menyangkut tiap unsur, tetapi dibahas secara singkat dan
dalam keterkaitannya dengan unsur–unsur lainnya. Bahasan yang lebih panjang
lebar dan terfokus hanya pada unsur-unsur yang dianggap terpenting diberikan
pada bab-bab tersendiri.
UNSUR-UNSUR ISI PROPOSAL DAN KETERKAITANNYA
Secara umum, isi proposal penelitian meliputi.unsur-unsur
sebagai berikut (menurut pedoman penulisan tesis yang dikeluarkan oleh Program
Pascasarjana UGM, 1997):
1)
Judul
2) Latar belakang & perumusan permasalahan (& keaslian penelitian, dan faedah yang dapat diharapkan)
3) Tujuan dan Lingkup penelitian
4) Tinjauan Pustaka
5) Landasan Teori
6) Hipotesis
7) Cara penelitian
8) Jadwal penelitian
9) Daftar Pustaka
10) Lampiran
Keterkaitan antar unsur tersebut terlihat seperti pada gambar di bawah ini:
2) Latar belakang & perumusan permasalahan (& keaslian penelitian, dan faedah yang dapat diharapkan)
3) Tujuan dan Lingkup penelitian
4) Tinjauan Pustaka
5) Landasan Teori
6) Hipotesis
7) Cara penelitian
8) Jadwal penelitian
9) Daftar Pustaka
10) Lampiran
Keterkaitan antar unsur tersebut terlihat seperti pada gambar di bawah ini:
Dari gambar di atas terlihat bahwa ada tiga unsur yang
menjadi “sentral” keterkaitan unsur-unsur proposal, yaitu: (a) rumusan
permasalahan, (b) tinjauan pustaka, dan (c) cara penelitian. Rumusan masalah
berfungsi mengarahkan fokus penelitian, sedangkan tinjauan pustaka merupakan
dialog dengan khazanah ilmu pengetahuan, dan cara (metode) penelitian menjadi
cetak biru (rancangan) untuk pelaksanaan penelitian. Karena ketiga unsure ini
menjadi sentral dari isi proposal penelitian, maka bahasan dimulai dari ketiga
unusr tersebut. Bahasan di bawah ini bersifat singkat, sedangkan bahasan yang
lebih panjang lebar diberikan dalam bab-bab tersendiri.
Judul, Latar belakang, dan Rumusan Permasalahan
Bagian pertama atau awal sebuah proposal dimulai dengan (1) judul, disusul dengan
(2) latar belakang, (3) rumusan masalah, (4) keaslian
penelitian, dan (5) faedah atau manfaat penelitian.
JUDUL PROPOSAL PENELITIAN
Judul merupakan gerbang pertama seseorang membaca sebuah
proposal penelitian. karena merupakan gerbang pertama, maka judul proposal
penelitian perlu dapat menarik minat orang lain untuk membaca. Judul perlu
singkat tapi bermakna dan tentu saja harus jelas terkait dengan isinya. Judul
karya ilmiah berbeda dengan judul novel atau semacamnya dalam hal kejelasan kaitannya
dengan isi. Judul novel cenderung menarik minat pembaca dengan mencerminkan
suatu “misteri” tentang isinya sehingga pembaca tergelitik ingin tahu isinya.
Contoh judul novel: “Di Balik Kegelapan Malam”. Judul penelitian ilmiah
biasanya tidak perlu dimulai dengan kata “Studi…”, “Penelitian…”, “Kajian..”
dan sebagainya karena hal itu terlalu berlebihan. Demikian pula contohnya dalam
dunia novel, tidak ada judul yang berbunyi “Novel tentang di balik kegelapan
malam”. Judul sering berubah-ubah, makin singkat, dan makin tajam (sejalan
dengan makin tajamnya rumusan permasalahan). Bila memang tidak dapat
dipersingkat, meskipun tetap panjang, maka judul dapat dibuat bertingkat, yaitu
judul utama, dan anak judul. Penghalusan atau perubahan judul juga perlu mempertimbangkan
bahwa judul tersebut akan diakses (dicari) dengan komputer, sehingga pakailah
kata atau istilah yang umum dalam bidang ilmunya.
LATAR BELAKANG
Dua pertanyaan perlu dijawab dalam rangka mengisi bagian
latar belakang ini, yaitu: Mengapa kita memilih permasalahan ini? Apakah ada
opini independen yang menunjang diperlukannya penelitian ini?
Untuk menjawab pertanyaan “mengapa kita memilih permasalahan
ini?”, maka langkah pertama, kita perlu memilih bidang keilmuan yang kita ingin
lakukan penelitiannya. Pemilihan bidang tersebut diteruskan ke sub-bidang dan
seterusnya hingga sampai pada topik tertentu yang kita minati. Langkah kedua,
kita perlu melakukan kajian terhadap pustaka berkaitan .kemajuan terakhir ilmu
pengetahuan dalam topik tersebut—untuk mencari peluang pengembangan atau
pemantapan teori. Minar maupun peluang tersebut seringkali didorong oleh isu
nyata dan aktual—yang muncul di jurnal ilmiah terbaru atau artikel koran
bermutu atau pidato penting dan aktual, atau direkomendasikan oleh penelitian
sebelumnya.. Ini semua merupakan opini independen yang menunjang diperlukannya
penelitian yang diusulkan tersebut.
RUMUSAN PERMASALAHAN
Rumusan permasalahan perlu dituliskan secara singkat, jelas,
mudah dipahami dan mudah dipertahankan. Rumusan yang tersamar terkandung dalam
alinea tidak diharapkan karena memaksa pembaca untuk mencari sendiri dan
menginterpretasikan sendiri bagianbagian dari alinea atau kalimat-kalaimat yang
bersifat rumusan permasalahan. Tuliskanlah rumusan permasalahan sebagai kalimat
terakhir dari bagian ini agar mudah dibaca (dan mudah dicari)—bahasan lebih
panjang lebar tentang cara-cara merumuskan permasalahan termuat di bab
tersendiri.
KEASLIAN PENELITIAN
Dalam bagian ini, pada dasarnya, perlu kita tunjukkan (dengan
dasar kajian pustaka) bahwa permasalahan yang akan kita teliti belum pernah
diteliti sebelumnya. Tapi bila sudah pernah diteliti, maka perlu kita tunjukkan
bahwa teori yang ada belum mantap dan perlu diuji kembali. Kondisi sebaliknya
juga berlaku, yaitu bila permasalahan tersebut sudah pernah diteliti dan teori
yang ada telah dianggap mantap, maka kita perlu mengganti permasalahan (dalam
arti: mencari judul lain).
FAEDAH YANG DIHARAPKAN
Dalam bagian ini perlu ditunjukkan manfaat atau faedah yang
diharapkan dari penelitian ini untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan atau
pembangunan negara. Manfaat bagi ilmu pengetahuan dapat berupa
penemuan/pengembangan teori baru atau pemantapan teori yang telah ada. Bagi
pembangunan negara, apakah hasil penelitian ini dapat diterapkan langsung ke
praktek nyata? atau bila tidak langsung, jalur atau batu-batu loncatannya apa
saja?
TUJUAN DAN LINGKUP PENELITIAN
Tujuan penelitian berkaitan dengan kedudukan permasalahan
penelitian dalam khazanah ilmu pengetahuan (yang tercermin dalam tinjauan
pustaka). Kedudukan permasalahan—dilihat dari pandangan tertentu—mempunyai lima
macam kemungkinan, yaitu; ekplorasi (masih “meraba-raba”), deskripsi
(menjelaskan lebih lanjut), eksplanasi (mengkonfirmasikan teori), prediksi
(menjelaskan hubungan sebab-akibat), dan aksi (aplikasi ke tindakan). Pandangan
yang lain (Castetter dan Heisler, 1984: 9) membedakan tujuan penelitian
(purpose of study) menjadi sembilan, yaitu: 1) mengkaji (examine),
mendeskripsikan (describe), atau menjelaskan (explain) suatu fenomena unik; 2)
meluaskan generalisasi suatu temuan tertentu; 3) menguji validitas suatu teori;
4) menutup kesenjangan antar teori (penjelasan, explanasions) yang ada; 5) memberikan
penjelasan terhadap bukti-bukti yang bertentangan; 6) memperbaiki metodologi
yang keliru; 7) memperbaiki interpretasi yang keliru; 8) mengatasi kesulitan
dalam praktek; 9) memperbarui informasi, mengembangkan bukti longitudinal (dari
masa ke masa). Seringkali untuk mencapai tujuan memerlukan waktu yang “terlalu”
lama atau memerlukan tenaga yang “terlalu” besar. Agar penelitian dapat
dikelola dengan baik, maka perlu dilakukan pembatasan terhadap pencapaian
tujuan. Pembatasan tersebut dilakukan dengan membatasi lingkup penelitian.
Pernyataan batasan lingkup ini juga berfungsi untuk lebih mempertajam rumusan
permasalahan.
TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan pustaka memuat uraian sistematis dan bersifat
diskusi tentang hasil-hasil penelitian sebelumnya dan terkait serta ilmu
pengetahuan mutakhir (berupa pustaka) yang terkait dengan permasalahan.
Tinjauan pustaka berbeda dengan resensi pustaka. Resensi pustaka membahas
pustaka satu demi satu, sedangkan tinjauan pustaka membahas pustaka-pustaka per
topik (bukan per pustaka), dalam bentuk debat atau diskusi antar pustaka
tentang suatu topik tertentu. Urutan topik diatur secara sitematis, dalam arti
terdapat suatu kerangka yang jelas dalam merangkai topik-topik tersebut dalam
suatu sistem.
Menurut Castetter dan Heisler (1984), tinjauan pustaka
berfungsi: 1) untuk mempelajari sejarah permasalahan penelitian (sehingga dapat
ditunjukkan bahwa permasalahan tersebut belum pernah diteliti atau bila sudah
pernah, teori yang ada belum mantap); 2) untuk membantu pemilihan cara penelitian
(dengan belajar dari pengalaman penelitian sebelumnya); 3) untuk memahami
kerangka atau latar belakang teoritis dari permasalahan yang diteliti (hasil
pemahaman tersebut dituliskan tersendiri sebagai “Landasan Teori”); 4) untuk
memahami kelebihan atau kekurangan studi-studi terdahulu (tidak semua
penelitian menghasilkan temuan yang mantap); 5) untuk menghindarkan duplikasi
yang tidak perlu (hasil fungsi ini dituliskan sebagai “Keaslian penelitian”);
6) untuk memberi penalaran atau alasan pemilihan permasalahan (hasil fungsi ini
dituliskan sebagai “latar belakang”).
Catatan: Pustaka-pustaka yang diacu dalam tinjauan pustaka
harus termuat informasinya dalam “Daftar Pustaka”. Cara pengacuan secara
konsisten perlu mengikuti corak (style) tertentu.yang dianjurkan dalam pedoman
penulisan tesis atau proposal penelitian.
LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS
Seperti
diterangkan di bagian “Tinjauan Pustaka”, landasan teori diangkat (disarikan)
dari tinjauan pustaka tentang kerangka teori yang melatarbelakangi (menjadi
landasan) bagi permasalahan yang diteliti. Landasan teori merupakan satu set
teori yang dipilih oleh peneliti sebagai tuntunan untuk mengerjakan penelitian
lebih lanjut dan juga termasuk untuk menulis hipotesis. Landasan teori dapat
berbentuk uraian kualitatif, model matematis, atau persamaan-persamaan.
Catatan: untuk beberapa macam penelitian (missal penelitian yang berbasis
paradigma fenomenologi) tidak boleh atau tidak perlu mempunyai landasan teori
dan hipotesis..
Hipotesis memuat pernyataan singkat yang disimpulkan dari landasan teori atau tinjauan pustaka dan merupakan jawaban sementara (dugaan) terhadap permasalahan yang diteliti. Karena diangkat dari landasan teori, maka hipotesis merupakan “kesimpulan teoritik” (hasil perenungan teoritis) yang perlu diuji dengan kenyataan empirik. Hipotesis masih perlu diuji kebenarannya, maka isi hipotesis harus bersifat dapat diuji atau dapat dikonformasikan.
Menurut Borg dan Gall (dalam Arikunto, 1998: 70), penulisan hipotesis perlu mengikuti persayaratan sebagai berikut:
a) dirumuskan secara singkat tapi jelas;
b) dengan nyata menunjukkan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih;
c) didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau peneliti yang terkait (tercantum dalam landasan teori atau tinjauan pustaka).
Hipotesis memuat pernyataan singkat yang disimpulkan dari landasan teori atau tinjauan pustaka dan merupakan jawaban sementara (dugaan) terhadap permasalahan yang diteliti. Karena diangkat dari landasan teori, maka hipotesis merupakan “kesimpulan teoritik” (hasil perenungan teoritis) yang perlu diuji dengan kenyataan empirik. Hipotesis masih perlu diuji kebenarannya, maka isi hipotesis harus bersifat dapat diuji atau dapat dikonformasikan.
Menurut Borg dan Gall (dalam Arikunto, 1998: 70), penulisan hipotesis perlu mengikuti persayaratan sebagai berikut:
a) dirumuskan secara singkat tapi jelas;
b) dengan nyata menunjukkan adanya hubungan antara dua variabel atau lebih;
c) didukung oleh teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli atau peneliti yang terkait (tercantum dalam landasan teori atau tinjauan pustaka).
CARA PENELITIAN DAN JADWAL PENELITIAN
Secara
umum, dalam cara penelitian perlu dijelaskan:
1) ragam penelitian yang dianut (Amirin, 1986: 89, menyebutkannya sebagai “corak”
1) penelitian)—lihat bab “Ragam Penelitian”;
2) variabel-variabel yang diteliti;
3) sumber data (tempat variabel berada; populasi dan sampelnya);
4) instrumen atau alat yang dipakai dalam pengumpulan data/survei (termasuk antara lain: kuesioner);
5) cara pengumpulan data atau survei;
6) cara pengolahan dan analisis data.
Butir ke 5 dan 6 di atas juga dicerminkan dalam bentuk jadwal penelitian. Jadwal penelitian menguraikan kegiatan dan waktu yang direncanakan dalam: (a) tahap-tahap penelitian, (b) rincian kegiatan pada setiap tahap, dan (c) waktu yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tiap tahap. Jadwal dapat dipresentasikan dalam bentuk tabel/matriks atau uraian narasi.
1) ragam penelitian yang dianut (Amirin, 1986: 89, menyebutkannya sebagai “corak”
1) penelitian)—lihat bab “Ragam Penelitian”;
2) variabel-variabel yang diteliti;
3) sumber data (tempat variabel berada; populasi dan sampelnya);
4) instrumen atau alat yang dipakai dalam pengumpulan data/survei (termasuk antara lain: kuesioner);
5) cara pengumpulan data atau survei;
6) cara pengolahan dan analisis data.
Butir ke 5 dan 6 di atas juga dicerminkan dalam bentuk jadwal penelitian. Jadwal penelitian menguraikan kegiatan dan waktu yang direncanakan dalam: (a) tahap-tahap penelitian, (b) rincian kegiatan pada setiap tahap, dan (c) waktu yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan tiap tahap. Jadwal dapat dipresentasikan dalam bentuk tabel/matriks atau uraian narasi.
DAFTAR PUSTAKA DAN LAMPIRAN
Daftar
Pustaka memuat informasi pustaka-pustaka yang diacu dalam proposal penelitian.
Kadangkala untuk menunjukkan bahwa peneliti membaca banyak pustaka, maka dalam
daftar pustaka dituliskan juga pustaka-pustaka yang nyatanya tidak diacu dalam
narasi proposal. Hal ini tidak dianjurkan untuk dilakukan, karena sudah umum
bahwa peneliti tentu membaca banyak pustaka dalam rangka penelitiannya. Dalam
daftar pustaka, biasanya, buku dan majalah tidak dipisahkan dalam daftar
sendiri-sendiri. Untuk penulisan daftar pustaka terdapat banyak corak tata
penulisan— ikutilah petunjuk yang berlaku dan terapkan corak tersebut secara
konsisten.
Lampiran dapat diisi dengan materi yang “kurang penting” dalam arti “boleh dibaca atau tidak dibaca”. Biasanya lampiran memuat antara lain: kuesioner dan daftar sumber data yang akan dikunjungi atau diambil datanya. Sebaiknya jumlah halaman lampiran tidak terlalu banyak agar tidak terasa lebih penting dibanding dengan isi utamanya.
Lampiran dapat diisi dengan materi yang “kurang penting” dalam arti “boleh dibaca atau tidak dibaca”. Biasanya lampiran memuat antara lain: kuesioner dan daftar sumber data yang akan dikunjungi atau diambil datanya. Sebaiknya jumlah halaman lampiran tidak terlalu banyak agar tidak terasa lebih penting dibanding dengan isi utamanya.
HUBUNGAN ANTARA PROPOSAL DAN LAPORAN PENELITIAN
Penyusunan
proposal sebenarnya merupakan kegiatan yang menerus, meskipun pada saat yang
telah ditetapkan kita harus memasukkan proposal untuk dievaluasi. Proposal yang
telah selesai dievaluasi dan diterima untuk dilaksanakan tetap harus dikembangkan
penulisannya. Isi proposalakan menjadi bahan awal bagi penulisan laporan
penelitian, yaitu terlihat pada tabel di atas
- http://rinawssuriyani.blogspot.co.id/2013/04/pengertian-metode-dan-metodologi.html
- http://tongke1.blogspot.co.id/2012/07/macam-macam-tujuan-penelitian.html
- https://farelbae.wordpress.com/catatan-kuliah-ku/ragam-penelitian/
- https://sinaukomunikasi.wordpress.com/2013/11/16/mengenal-ragam-dan-jenis-penelitian/
-
http://ukeljajahku.blogspot.co.id/2011/04/makalah-ragam-penelitian.html
